Bung karno, Pancasila dan Republik Indonesia
Oleh; Abdy Yuhana,
Ketua Persatuan Alumni GMNI Jawa Barat
Di bulan Juni ini ada beberapa momentum penting bagi bangsa indonesia dalam kontek sejarah bangsa. Momentum penting tersebut adalah 1 juni merupakan lahirnya Pancasila, 6 juni lahirnya proklamator yang juga presiden pertama republik Indonesia yaitu Bung Karno sementara 21 juni merupakan wafat Bung karno tepatnya 21 juni 1970.
Sebagaimana, dalam lintasan sejarah bangsa bahwa 1 juni merupakan pidato bung karno dihadapan sidang BPUPKI yang dipimpin dr Radjiman Wedyodiningrat sebagai ketua BPUPKI. Sidang tersebut sesungguhnya merupakan rangkaian dalam menyusun dan membentuk Konstitusi kita yaitu UUD 1945. Pembentukan UUD 1945 dimulai pada tanggal 29 mei sampai dengan 17 juli 1945.
Pada tanggal 1 Juni tersebut Bung Karno, menyampaikan pidato sebagai jawaban dari permintaan ketua BPUPKI, dr radjiman wedyodiningrat tentang staatside (konsep negara) yang cocok bagi bangsa Indonesia merdeka. Bung karno, kemudian menyampaikan pidatonya yang kemudian disebut sebagai lahirnya Pancasila 1 Juni.
Pancasila dalam pidatonya tersebut, dikatakan oleh Bung Karno merupakan philosopische groundslagh, fundamen, filsafat, fikiran yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan indonesia yang kekal dan abadi. Sehingga, dalam diri Pancasila digali dari berbagai perspektif, baik Agama, teori kenegaraan dan aliran budaya.
Pancasila, yang dipidatokan pada saat itu terdiri dari lima sila yaitu kebangsaan indonesia, internasionalisme/pri kemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial dan Ketuhanaan. Kemudian, menurutnya kalau dianggap terlalu banyak bisa diperas menjadi trisila yaitu sosio nasionalisme, sosio demokrasi dan ketuhanan. Bahkan, Bung Karno juga menyampiakan bisa menjadi ekasila yaitu gotong royong.
Sehingga, kemudian tidak dapat dibantah kalau bung Karno yang pertama kali menyampaikan gagasan tentang dasar negara yang cocok bagi bangsa Indonesia yaitu, Pancasila. Sehingga, dalam rangkaiannya maka Pancasila 1 Juni tidak bisa terlepas seperti apa yang ada di dalam pembukaan UUD 1945, sebab secara substansi tidak ada yang berbeda. UUD 1945 ditetapkan pada tanggal 18 Agustus sebagai UUD Republik Indonesia, sehari setelah Proklamasi Republik Indonesia.
Hal yang menarik yang juga ada di dalam pidato lahirnya Pancasila 1 Juni tersebut adalah tentang bentuk Pemerintahan yang akan diterapkan ketika Indonesia sudah merdeka. Bung Karno, menyampaikannya bahwa …saya ulangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal! Juga di dalam urusan kepala negara, saya terus terang, saya tidak akan memilih monarchie. Apa sebab? Oleh karena monarchie “Vooronderstelt Ertelijheid”, turun temurun….maka saya minta supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih”…. Sehingga, sangatlah jelas bahwa bentuk pemerintahan yang dikehendaki adalah Republik bukan kerajaan. Bahkan, Bung Karno pernah juga ditawari oleh Jepang untuk menjadi Raja, seperti halnya bentuk pemerintahan di Jepang yang menganut kerajaaan, namun demikian Bung Karno, menolaknya karena dianggap tidak cocok dengan kultur dan natur Indonesia.
Bung Karno, dilahirkan 6 juni di Surabaya, dan banyak menerima aliran dan pikiran-pikiran dari guru politiknya yaitu HOS Tjokroaminoto, di situlah bung Karno belajar tentang banyak hal termasuk berbagai macam aliran ideologi, bahkan kawan-kawannya yang sama kemudian menjadi tokoh-tokoih politik Indonesia yang berbeda secara ideologis, seperti muso, alimin dan kartosuwiryo.
Lalu, di Bandung pada saat menempuh kuliah di THS (ITB) Bung Karno, semakin matang dan menerapkan apa yang menjadi teori ideologi menjadi praktek, sehingga di bandung lah Bung Karno membentuk satu aliran ideologi yang disebut sebagai Marhaenisme, yang diawali pertemuanya dengan seorang petani yang bernama Ki Marhaen di daerah Bandung selatan.
Di bandung juga Bung Karno, menyampaikan pembelaan di hadapan sidang pengadilan atau dulu dikenal dengan landraad, menyampiakan pledoi (pembelaan) yang bung karno namakan Indonesia Menggugat. Pledoi tersebut berisi tentang perlawanannya terhadap sistem yang diterapkan oleh para penjajah yang sangat merugikan bangsa Indonesia. saat ini gedung landraad tersebut dinamakan gedung Indonesia Menggugat.
Banyak hal, yang bisa dieksplorasi dari berbagai macam pikiran-pikiran Bung Karno yang masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini terutama tentang ide persatuan dan kemndirian dalam membangun Bangsa Indonesia. Apalagi melihat realitas atas kemajemukan bangsa Indoesia, maka ide Paersatuan Nasional haruslah terus disemai sehingga dia akan tumbuh menjadi taman sarinya nasionalisme.
Dalam hubungan antar negara yang semakin kompetitif, pikiran-pikiran Bung Karno tentang tri sakti, berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam budaya sangtlah relevan, agar bangsa indonesia dalam pergaulan di dunia internasional dapat berdiri sama tingi dan duduk sama rendah.
Akhirnya, sebagai manusia biasa Bung Karno, pada tanggal 21 Juni wafat. Dalam suatu kondisi yang tidak layak bagi seorang pemimpin yang mempunyai jasa besar bagi berdirinya Republik Indonesia, Bung Karno wafat di wisma yaso Jakarta. Bahkan, keiningananya untuk dimakamkan di bumi parahyangan tepatnya di Bogor pun tidak dikabulkan oleh pemerintah pada saat itu, sehingga dimakamkan di Blitar Jawa Timur.
Bung Karno adalah Proklamator, penggagas Pancasila dan Presiden Pertama Republik Indonesia, melalui berbagai macam tulisannya yang sangat inspiratif dan visioner membuktikan bahwa dirinya adalah orang besar yang ada dan dimiliki Republik Indonesia. Tahun 2015 ini kita mengemang, Bung Karno sebagai Bapak Bangsa yang mempunyai cita-cita terwujudnya negara demokrasi dengan Pancasila sebagai pijakan dalam bernegara dan Bung Karno tidak akan lupa pesan gurunya HOS Tjokroaminoto, “Jika kalian ingin jadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti Orator.”
